Panduan Lengkap Migrasi WordPress ke VPS, Manual & SSH Tanpa Downtime

Migrasi dari shared hosting ke VPS adalah langkah krusial untuk meningkatkan skalabilitas bisnis digital Anda. Baik melalui jalur manual yang familiar maupun jalur SSH yang efisien, kuncinya adalah ketelitian dalam memindahkan database dan menyesuaikan konfigurasi wp-config.php.

Dalam Artikel Ini

Migrasi website adalah fase krusial dalam siklus hidup sebuah platform digital. Bagi pemilik bisnis atau pengembang yang bernaung di bawah bendera Cakrabirawa Digital, performa website bukan sekadar angka, melainkan representasi profesionalisme. Ketika shared hosting tidak lagi mampu menahan beban trafik, VPS (Virtual Private Server) adalah destinasi mutlak.

Dalam panduan ini, kita akan membedah dua metodologi migrasi yang paling efektif: Metode Konvensional (Download/Upload) untuk Anda yang lebih nyaman dengan antarmuka visual, dan Metode Profesional (SSH/Command Line) untuk efisiensi dan kecepatan maksimal.

Filosofi Migrasi: Mengapa Struktur Itu Penting?

Sebelum masuk ke langkah teknis, Anda harus memahami bahwa WordPress terdiri dari dua komponen yang saling mengunci:

  1. File System: Berisi core WordPress, tema, plugin, dan media yang Anda unggah.

  2. Database (MySQL/MariaDB): Berisi konten tulisan, pengaturan konfigurasi, data pengguna, dan struktur relasional website.

Migrasi yang sukses adalah migrasi yang mampu memindahkan kedua komponen ini tanpa ada data yang korup atau tertinggal.

Tahap 1: Persiapan Infrastruktur VPS

Sebelum memindahkan data, pastikan “rumah baru” Anda sudah siap. Cakrabirawa Digital menyarankan penggunaan OS Ubuntu 22.04 LTS atau 24.04 karena dukungan komunitasnya yang luas.

Memilih Control Panel

Meskipun Anda bisa mengelola VPS secara bare metal (tanpa panel), menggunakan control panel akan mempermudah manajemen harian:

  • CyberPanel: Menggunakan OpenLiteSpeed, sangat cepat untuk WordPress.

  • CloudPanel: Minimalis, performa tinggi, sangat cocok untuk PHP modern.

  • RunCloud: Jika Anda menginginkan kenyamanan managed service di VPS sendiri.

Setelah VPS aktif, buatlah “Website Container” atau “Virtual Host” dengan nama domain Anda di panel tersebut. Catatlah alamat IP VPS Anda (Contoh: 103.150.x.x).

Tahap 2: Metode 1 – Migrasi Konvensional (Via File Manager & Download)

Metode ini cocok bagi Anda yang memiliki koneksi internet stabil dan lebih suka bekerja dengan tampilan grafis (GUI).

1.1 Kompresi dan Unduh Data dari Hosting Lama

  1. Masuk ke cPanel hosting lama Anda.

  2. Buka File Manager > public_html.

  3. Pilih semua file, klik kanan Compress, pilih Zip Archive. Beri nama backup_web.zip.

  4. Setelah selesai, klik kanan file tersebut dan Download.

  5. Masuk ke phpMyAdmin, pilih database WordPress Anda, klik tab Export, gunakan metode Quick, dan unduh file .sql.

1.2 Unggah ke VPS Baru

  1. Login ke Control Panel VPS Anda (misal: CyberPanel atau CloudPanel).

  2. Buka File Manager domain tujuan.

  3. Hapus semua file bawaan (seperti index.html default).

  4. Upload file backup_web.zip yang tadi diunduh.

  5. Klik kanan dan Extract. Pastikan semua file berada langsung di bawah folder root (bukan di dalam sub-folder lagi).

1.3 Impor Database

  1. Di panel VPS, buat database baru. Misal: cakra_db, user: cakra_user, pass: PasswordKuat123.

  2. Buka phpMyAdmin di VPS tersebut.

  3. Pilih database yang baru dibuat, klik Import, masukkan file .sql, lalu tekan Go.

Tahap 3: Metode 2 – Migrasi Profesional (Via SSH & Remote Transfer)

Ini adalah cara yang digunakan oleh tim ahli di Cakrabirawa Digital. Metode ini jauh lebih cepat karena data ditransfer langsung antar-server (server-to-server) tanpa perlu singgah di komputer Anda.

2.1 Akses SSH

Buka terminal (Mac/Linux) atau aplikasi PuTTY/Powershell (Windows). Masuk ke server lama:

ssh username@ip_hosting_lama

2.2 Kompresi via Command Line

Masuk ke direktori website dan kompres file menggunakan tar (lebih cepat dari zip):

cd /path/to/public_html
tar -cvzf backup_files.tar.gz .

2.3 Dump Database via CLI

Gunakan perintah mysqldump untuk mengekspor database dengan cepat:

mysqldump -u username_db -p nama_database > backup_db.sql

2.4 Transfer Data Langsung ke VPS (SCP/Rsync)

Ini adalah “keajaiban” SSH. Kita akan mengirim file langsung ke IP VPS baru:

scp backup_files.tar.gz backup_db.sql root@IP_VPS_BARU:/home/directory_tujuan/

Sistem akan meminta password VPS baru Anda. Tunggu hingga proses transfer selesai.

2.5 Ekstrak dan Restore di VPS

Masuk ke SSH VPS baru Anda, lalu jalankan:

# Ekstrak file
tar -xvzf backup_files.tar.gz

# Import database
mysql -u user_vps -p nama_db_vps < backup_db.sql

Tahap 4: Sinkronisasi Konfigurasi (wp-config.php)

Setelah file dan database berpindah (dengan metode mana pun), WordPress tidak akan langsung berjalan karena “alamat” databasenya masih merujuk ke hosting lama.

Cari file wp-config.php di VPS, lalu edit bagian berikut:

/** Sesuaikan dengan nama database baru di VPS */
define( 'DB_NAME', 'nama_database_vps' );

/** Sesuaikan dengan user database baru */
define( 'DB_USER', 'user_vps' );

/** Masukkan password database baru */
define( 'DB_PASSWORD', 'password_yang_dibuat_tadi' );

/** Biarkan localhost kecuali panel Anda mengharuskan lain */
define( 'DB_HOST', 'localhost' );

Tahap 5: Penanganan Izin File (Permissions) & Kepemilikan

Salah satu masalah paling umum setelah migrasi ke VPS adalah error “Missing temporary folder” atau kegagalan update plugin. Ini karena ownership file yang salah.

Di SSH VPS, jalankan perintah berikut (asumsi menggunakan web server Nginx/Apache di Ubuntu):

# Memberikan kepemilikan kepada user web (www-data)
chown -R www-data:www-data /var/www/nama-folder-anda/

# Mengatur izin folder ke 755
find /var/www/nama-folder-anda/ -type d -exec chmod 755 {} \;

# Mengatur izin file ke 644
find /var/www/nama-folder-anda/ -type f -exec chmod 644 {} \;

Tahap 6: Strategi DNS Tanpa Downtime

Agar website tidak mengalami downtime saat perpindahan, gunakan teknik Host File Hack sebelum mengubah DNS asli.

1. Edit File Hosts Lokal

Di komputer Anda, arahkan domain ke IP VPS baru sementara untuk pengujian.

  • Windows: C:\Windows\System32\drivers\etc\hosts

  • Mac/Linux: /etc/hosts

Tambahkan baris: 103.150.x.x domainanda.com

Buka browser. Jika website berjalan normal, berarti migrasi sukses.

2. Update DNS di Registrar

Jika sudah yakin, masuk ke akun domain Anda (Cloudflare, Niagahoster, dll) dan ubah A Record ke IP VPS.

Tahap 7: Optimasi Pasca-Migrasi (Wajib)

Memiliki VPS tanpa optimasi ibarat memiliki Ferrari namun hanya diisi bensin murah. Lakukan langkah ini:

  1. Instal Redis Cache: VPS memungkinkan Anda melakukan caching di level RAM. Instal Redis melalui panel Anda.

  2. Konfigurasi Firewall: Gunakan ufw untuk menutup port yang tidak perlu.

ufw allow 80/tcp
ufw allow 443/tcp
ufw allow 22/tcp
ufw enable

3. Update PHP Version: Gunakan PHP 8.2 atau 8.3. Perbedaan kecepatannya dibandingkan 7.4 sangat signifikan (hingga 30% lebih cepat).

Perbandingan Efisiensi Metode

Kriteria Metode Manual (ZIP) Metode SSH (SCP/CLI)
Kecepatan Lambat (tergantung upload internet) Sangat Cepat (jalur internal server)
Kemudahan Mudah (visual/klik) Menantang (butuh command line)
Risiko Corrupt Sedang (karena proses upload) Sangat Rendah
Ukuran Data Terbatas limit PHP/Browser Tanpa Batas

Kesimpulan

Migrasi dari shared hosting ke VPS adalah langkah krusial untuk meningkatkan skalabilitas bisnis digital Anda. Baik melalui jalur manual yang familiar maupun jalur SSH yang efisien, kuncinya adalah ketelitian dalam memindahkan database dan menyesuaikan konfigurasi wp-config.php.

Website yang cepat bukan lagi sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan. Dengan mengikuti panduan dari Cakrabirawa Digital ini, Anda telah selangkah lebih maju dalam menguasai infrastruktur digital Anda sendiri.

Dalam Artikel Ini