Di peta fisik, pesantren adalah raksasa. Dengan jumlah lebih dari 41.000 lembaga yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, pesantren adalah tulang punggung pendidikan dan moral bangsa. Namun, ketika kita berpindah ke peta digital—khususnya di kolom pencarian Google, raksasa ini seolah sedang tidur pulas.
Pertanyaannya sederhana namun menggigit: Siapa yang saat ini menguasai jawaban atas pertanyaan agama umat di internet? Pesantren dengan ribuan kitab kuningnya, atau algoritma Google dengan sumber-sumber instannya?
Raksasa yang Pendiam
Berdasarkan data EMIS Pendis Kemenag, kita memiliki lebih dari 4 juta santri aktif. Jika satu pesantren melahirkan satu pemikiran dalam satu artikel saja per minggu, internet kita akan dibanjiri oleh narasi yang sejuk, moderat, dan memiliki sanad keilmuan yang jelas.
Namun realitanya, saat seseorang mengetik “Hukum waris Islam” atau “Adab kepada orang tua” di mesin pencari, website resmi pesantren masih jarang muncul di halaman pertama. Ruang kosong (vakum narasi) ini akhirnya diisi oleh situs-situs umum, blog pribadi, atau bahkan platform yang hanya mengejar clickbait tanpa kedalaman ilmu.
Algoritma Tidak Mengenal “Kedalaman Makna”
Satu hal yang harus kita sadari: Algoritma Google tidak peduli seberapa alim seorang pengasuh atau seberapa tua usia sebuah pondok. Google hanya membaca data.
Jika sebuah pesantren memiliki ilmu samudera tapi tidak pernah dituangkan ke dalam format digital (website), maka bagi algoritma Google, ilmu itu “tidak ada”. Akibatnya, umat yang sedang haus akan bimbingan agama justru “tersesat” di halaman pencarian karena mereka tidak menemukan jawaban dari sumber yang otoritatif.
Website: Benteng Kedaulatan Digital
Banyak yang bertanya, “Kan sudah ada YouTube dan Instagram? Kenapa harus website?”
Mari kita bicara tentang kedaulatan. Media sosial adalah “tanah sewaan”. Algoritmanya bisa berubah kapan saja, akun bisa terkena suspend tanpa alasan jelas, dan konten kita hanya bertahan beberapa jam sebelum tenggelam oleh tren baru.
Website adalah markas besar. Website adalah satu-satunya aset digital di mana pesantren memegang kendali penuh. Dengan optimasi SEO (Search Engine Optimization) yang tepat, website pesantren bisa melakukan intervensi terhadap algoritma. Website memastikan bahwa ketika umat mencari kebenaran, mereka diarahkan ke pintu gerbang pesantren, bukan ke tempat lain.
Membangun Khidmah Digital
Digitalisasi pesantren bukan berarti mengubah santri menjadi robot atau meninggalkan kitab kuning. Justru sebaliknya, digitalisasi adalah cara kita melakukan Khidmah Masa Kini.
Membangun website adalah upaya menjemput bola. Ia adalah “pengeras suara” yang jangkauannya melampaui pagar beton pondok. Satu artikel yang ditulis dengan hati dan berbasis ilmu kitab, bisa menjadi hidayah bagi ribuan orang di belahan dunia lain yang bahkan tidak pernah kita kenal namanya.
Kesimpulan: Saatnya Raksasa Itu Terbangun
41.000 pesantren adalah potensi yang tidak boleh disia-siakan. Kita tidak boleh membiarkan algoritma mesin pencari mendikte narasi keislaman di negeri ini.
Sudah saatnya pesantren tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tapi penentu arah konten digital. Saatnya pesantren hadir bukan hanya sebagai penjaga tradisi di dunia nyata, tapi juga sebagai pemegang otoritas ilmu di dunia maya.
Karena pada akhirnya, jika kebenaran tidak terorganisir secara digital, ia akan kalah oleh kebisingan yang tak berdasar.
Alifbata.digital hadir untuk membantu pesantren membangun benteng kedaulatan digital itu. Mari kita warnai internet dengan kesejukan ilmu santri.